Senin, 25 Juni 2007

Sibghoh wal Inqilab

ASH-SHIBGHAH WA AL-INQILAAB

(Pewarnaan dan Perubahan)

Sinopsis

Syahaadatain yang terdiri dari syahaadah Laa ilaaha illa Allah dan Muhammad Rasulullah mesti diucapkan, diyakini dan diamalkan dengan baik. Ucapan Laa ilaaha illa Allaah menjadikan pengabdian hanya kepada Allah SWT saja. Sikap kita kepada syahaadah uluhiyah ini adalah ikhlas menerima dan meng-amalkan. Sedangkan Muhammad Rasulullah dijadikan sebagai contoh yang hasanah dan dijadikan sebagai ikutan kita. Syahaadatain mesti didasari kepada mahabbah (cinta) yang kemudian menghasilkan ridha kepada setiap yang disuruhnya. Dari cinta dan ridha ini muncul iman yang kemudian akan mewarnai diri kita dan sekaligus merubah diri kita dari segi I'tiqadi, fikri, syu'uuri dan suluki sehingga muncul pribadi muslim yang mempunyai nilai di sisi Allah.

Asy-Syahaadatain (Dua Kalimat Syahadat)

Dua kalimat syahaadah merupakan keyakinan yang tertanam di lubuk hati setiap muslim. Tidak sekadar keluar dari mulut saja tetapi menuntut bukti dalam amal perbuatan. la terdiri dari dua bahagian yaitu pengakuan bahwa tiada ilah selain Allah SWT dan pengakuan bahwa Muhammad Rasulullah. Iman bukan merupakan angan-angan tetapi menuntut perbuatan yang mencerminkan nilai-nilai iman tersebut. Nilai iman adalah nilai kalimat syahadatain yang perlu tegak dan diamalkan secara baik dengan menjadikan satu­satunya ilah hanya Allah saja. Allah SWT membenci orang yang beriman hanya dengan mulutnya saja. Karena Al Quran menyuruh orang yang beriman agar beramal shaleh bahkan ciri keimanan seseorang adalah beramal shaleh. Iman selalu dituntut beramal shaleh. Orang mukmin sejati memiliki interaksi yang kuat dengan kitabullah sehingga mengamalkan Islam yang berdasarkan Al Quran yang dipahaminya. Di antara ahli kitab yang sungguh-sungguh mukmin selalu membaca kitabullah, beramar ma'ruf dan nahi munkar, serta bersegera dalam kebaikan.

Dalil

Q. 61:2-3. Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.

Q. 17:109. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'.

Q. 3:113. Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat­ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang merekajugabersujud (sembahyang).

A. Asyhadu an Laa llaaha illaa Allaah (Pengakuan Bahwa Tiada Ilah Selain Allah)

Merupakan bahagian pertama syahaadatain yang maknanya tiada yang dapat, sesuai atau wajib disembah kecuali hanya Allah SWT Penyembahan yang benar terhadap Allah SWT melahirkan sikap ikhlas. Pengertian laa ilaaha illa Allaah adalah tiada yang diabdi selain Allah SWT Tiada yang ditakuti kecuali Allah dan hanya kepadaNya kita berlindung serta meminta tolong. Pengertian laa ilaaha illa Allaah menuntut adanya penghambaan secara menyeluruh kepada Allah SWT dan pengingkaran kepada thagut.

Dalil

Q. 21:25. Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku".

a

Q. 2:22-23. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-­sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur'an Yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-or­ang yang benar.

Q. 16:36. Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

Hadits. Rasulullah SAW bersabda,"Bersaksilah kalian: bahwasanya tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya aku adalah Rasulullah. Tidak akan menemui Allah dengan kalimat syahadat itu seorang hamba selain yang meragukannya, sehingga syurga pun tertutup baginya.

B. Asyhadu Anna Muhammad Rasulullah (Pengakuan Bahwa Muhammad Rasulullah)

Bagian kedua dari syahaadatain adalah menerima secara ikhlas dan senang hati Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT Dengan penerimaan ini muncul kesediaan menjadikan Rasulullah sebagai uswah. Rasulullah SAW adalah teladan sekaligus uswah dalam kehidupan muslim. Konsekwensi pengakuan bahwa Muhammad adalah rasul Allah adalah dengan menjadikannya sebagai contoh dan surf teladan bagi kehidupannya. Seorang Rasul diutus untuk ditaati, maka penyelewengan terhadap perintah Rasul adalah ke-munafikan dan mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal. Kewajiban mukmin adalah memenuhi seruan Allah SWT dan RasulNya, sedangkan tidak mentaati Rasul akan membuat tertutup hatinya.

Dalil

Q. 33:2 1. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Q. 3:3 1. Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Q. 4:80. Barangsiapa yang menta`ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta`ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta`atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.

Q. 4:64. Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk dita'ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Q. 24:63. Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang­orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang­orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.

Q. 8:24. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.

Hadits. Rasulullah SAW bersabda,"Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai keinginannya mengikuti apa yang aku bawa". "Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih dicintai daripada anak, ayahnya, dan manusia seluruhnya."

Al-Mahabbah (Cinta)

Merupakan dasar kesediaan seorang mukmin dalam meng-a-malkan kandungan syahaadatain. Cinta sebagai landasan penerimaan syahaadatain. Tanpa rasa cinta kepada Allah dan RasulNya, maka sulit bagi seseorang menjadikan Allah sebagai satu-satunya ilah sembahan dan menjadikan Muhammad sebagai ikutan dan teladan kehidupannya.

Dalil

Q. 2:165. Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaanNya (niscaya mereka menyesal).

Q. 8:2. Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-­ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal,

Hadits. Dari Anas Ibnu Malik R.A. berkata Rasulullah SAW bersabda," "Tiga hal, barangsiapa dalam dirinya ada ketiganya, akan mendapatkan manisnya iman, bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari pada selain keduanya, bila seseorang mencintai seseorang yang lain, ia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan apabila ia tidak ingin kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkan dirinya dari kekufuran itu sebagaimana ia tidak ingin dijebloskan ke dalam neraka." (HR.Bukhari dan Muslim ).

Ar-Ridhaa (Rela)

Merupakan hasil logis cinta mukmin kepada Allah SWT dan Rasulnya adalah wujudnya kerelaan. Ridha sebagai realisasi cinta. Orang yang cinta kepada sesuatu akan ridha kepada sesuatu tersebut apakah dari segala perintahnya, keinginannya dan perbuatannya. Apabila yang dicintai adalah Allah maka kita akan rela kepada semua perintahNya yang terdapat di dalam Al Quran dan bersedia untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalil

· Q. 76:30. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Al-limaan (Iman)

Syahadat muslim merupakan realisasi imannya kepada Allah SWT Kelezatannya dapat dicapai dengan adanya cinta dan ridha kepada Allah SWT, Rasul dan Islam. Syahaadatain adalah realitas iman kepada Allah SWT dan Rasul. Konsekuensi iman kepada Allah dan Rasul adalah juga iman kepada malaikat, kitab, kiamat, dan qadar baik/ buruk. Perjanjian syahadat berhubungan dengan keimanan kepada Allah SWT, Malaikat, Kitab-kitab, Rasul-rasul, Hari akhir dan qadha' qadar.

Dalil

Q. 61:10-11. Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya,

Q. 5:7. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya,

Q. 2:285. Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula or­ang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Al­lah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul­rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda­-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami ta' at". (Mereka berdo' a): `Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali".

Ash-Shibghah (Celupan)

Dengan keimanan yang benar maka perilaku dan kehidupan mukmin diwarnai oleh Allah SWT. Fenomenanya adalah berubahnya seluruh aktivitas hidupnya menjadi ibadah kepada Allah SWT Sibghah merupakan keimanan kepada Allah SWT yang sesungguhnya. Seluruh perilaku mukmin diwarnai oleh syahaadatain dan merupakan pengabdian kepada Allah SWT

Dalil

Q. 2:138. Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.

Hadits. Rasulullah SAW bersabda,"Wahai segenap manusia, Ingatlah sesungguhnya Tuhan kalian adalah satu dan sesungguhnya ayah kalian pun satu. Ingatlah, tidak ada kelebihan orang arab atas orang non arab, tidak adal kelebihan bagi orang non arab atas orang arab, tidak ada kelebihan orang kulit merah atas kulit hitam, dan tidak ada kelebihan orang kulit hitam atas orang kulit merah, kecuali dengan takwa." (musnad Imam Ahmad).

Al-Inqilaab (Perubahan Menyeluruh)

Syahadat yang telah masuk ke dalam diri mukmin dan mewarnai hidupnya pasti melahirkan perubahan yang menyeluruh yang mencakupi perubahan keyakinan, perubahan pemikiran, perubahan perasaan dan perubahan tingkah laku.

A. Al-I'tiqaadi (Keyakinan)

Sebelum syahadatnya mungkin dia berkeyakinan bahwa loyalitas dan ketaatan dapat dibe-rikan kepada tanah air, bangsa, masyarakat, seni, ilmu dan sebagainya, disamping mengabdi kepada Allah SWT Tetapi setelah bersyahadat ia melepaskan semua itu dan hanya menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya yang diabdi, ditaati dan diminta pertolongan di atas segalanya.

B. Al-Fikri (Pemikiran)

Sebelum meyakini syahadatnya mungkin ia berfikir boleh menerima syariat, aturan hidup dan perundang-undangan bersumber kepada adat istiadat datuk atau nenek moyang, pemikiran jahiliyah dari ilmuwan dan filosof, hawa nafsu penguasa dan sebagainya. Setelah me-mahami akibat dari syahaadatain maka ia hanya mengikuti pola fikir Islam yang bersumber dari Allah SWT dan RasulNya, kemu-dian hasil ijtihad orang-orang mukmin yang sesuai dengan bimbingan Allah SWT dan Rasul.

C. Asy-Syu'uuri (Perasaan)

Sebelum memahami syahaadatain ini mungkin perasaannya yang berupa cinta, takut, benci, marah, sedih atau senang ditentukan oleh situasi dan kondisi yang menimpa dirinya atau keadaan di sekelilingnya. Misalnya ia senang dengan mendapatkan keuntungan dari hasil usaha-nya, mendapat baju yang paling trendy, mendapat profesi yang menguntungkan. Sedih karena hilangnya kekayaan, merasa hina karena kemiskinan dan sebagainya. Maka setelah meng-hayati makna syahaadatain, tiada yang menyenangkan dan menyedihkan melainkan semua terkait dengan kepen-tingan Allah SWT dan RasulNya. Maka ia sedih bila ada yang masuk ke dalam kekufuran, sedih bila ada muslim yang disakiti, sedih memikirkan nasib kaum muslimin sebagai umat Mu-ham-mad. Kemudian dia merasa senang dengan kemajuan dak-wah, kebangkitan umat dan sebagainya.

D. As-Suluuki (Tingkah Laku)

Sebelum mengerti kandungan syahaadatain, mungkin tingkah laku seseorang mengikuti hawa nafsunya, menuruti bagaimana kondisi lingkungan. Ber-pakaian, bersikap, bergaul, mengisi waktu dengan kebiasaan-kebiasaan ahiliyah yang tidak ada tuntunannya dari Islam. Tetapi setelah mengerti syahaadatain ini ia berubah. Tingkah lakunya mencerminkan akhlak Islam, pergaulannya meng-ikuti syariah, waktunya diisi dengan hal-hal yang bermanfaat apakah bagi dirinya maupun orang lain.

Dalil

Hadits. Dari Abu Musa Al-Asy'ari R.A bahwasanya Rasulullah bersabda,"Perumpamaan hidayah dan ilmu yang dibawakan dari sisi Allah adalah seperti hujan yang turun ke bumi. Maka ada sebagian lahan yang dapat menerima air itu, lalu ia menumbuhkan rerumputan dan pepohonan yang lebat. Dan di antara lahan ada yang menyerap dan dapat menahan air sehingga Allah memberi manfaat kepada manusia, melalui air itu, untuk minum, menggembala, mengairi dan bercocok tanam. Huj an pun turun ke wilayah cadas sehingga is tidak dapat menahan air dan tidak menumbuhkan rumput. Itulah perumpamaan orang yang mendalami agama Allah. Allah memberi manfaat melalui apa yang aku bawa, kemudian is memanfaatkannya, mengkajinya kemudian mengajarkannya, adapula orang yang tidak memberikan perhatian kepadanya sedikitpun dan tidak menerima hidayah Allah yang aku diutus karenanya. (HR. Bukhari-Muslim).

· Perubahan menyeluruh terjadi pada pribadi Ummar bin Khattab RA, Mus'ab bin Umair, Saad bin Abi Waqqash dan para sahabat lainnya, ini merupakan bukti bahwa syahaadatain membawa perubahan pada diri yang mengucapkannya.

Contoh ini terjadi pada tingkah laku Mus'ab bin Umair yang sebelum Islam merupakan seseorang pemuda yang sangat dikenal ketampanannya di kota Mekkah. Setelah Islam is menjadi mujahid dakwah, ketika wafatnya is hanya punya sehelai kain burdah untuk menutupi jasadnya yang syahid. Bila kepalanya ditutup kakinya terbuka dan bila kakinya ditutup maka kepalanya terbuka.

Asy-Syakhshiyah Al-Islaamiyah (Kepribadian yang Islami)

Dengan adanya perubahan pada empat hal diatas maka muslim memiliki kepribadian yang Islami. Pribadi ini men-dasarkan keyakinan, bentuk berfikir, emosi, sikap, pan-dangan, tingkah laku, pergaulan dan masalah apa saja dengan dasar Islam. Akhlak pribadi yang Islami terdapat pada diri Rasulullah. Nabi SAW memiliki akhlak yang disenangi oleh musuh atau kawan, justru dengan akhlak Nabi ini dapat menarik manusia kafir untuk mengikuti Islam. Akhlak yang mulia sebagai ciri kepribadian muslim merupakan akhlak yang sangat adil, objektif dan universal.

Dalil

· Q. 68:4. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

· Hadits. Akhlak Rasul adalah akhlak Al-Quran.

Al-Qayyimah (Bernilai Di Sisi Allah)

Tatkala seorang muslim telah memiliki kepribadian Islami dengan utuh, maka is akan memiliki nilai disisi Allah SWT Pribadi-pribadi ini dalam jumlah yang banyak bergabung menjadi umat. Bila umat Islam telah memiliki banyak pribadi seperti ini is akan diperhitungkan oleh lawan­lawannya. Umat seperti ini mampu membawa amanat menegakkan khilafah Islamiyah. Janji Allah SWT akan tegaknya khilafah, adalah bagi mereka yang beriman dan beramal shaleh. Ciri khalifah akan ditemui kepada mereka yang berdakwah karena perannya sebagai membangun dan memelihara alam. Amanah memikul then dibebankan pada manusia. Hanya manusia yang mau menerima amanah Allah tersebut, manakala makhluk lainnya tidak bersedia menerima amanah tersebut karena tidak mampu menjalankannya.

Dalil

Q. 24:55. Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

Q. 33:72. Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,

3 komentar:

Yunanistya mengatakan...

Alhamdulillah tulisan ini membantu sy bisa online belajar :)

hari almakky mengatakan...

mantap ust..izin share ya..biar ilmunya dibaca banyak orang

Anunk Salsabiela Fauziyah mengatakan...

Tulisannya bagus